The Moderasi Beragama : Konsep Ajaran Hindu – Buddha Sebagai Dasar yang Membentuk Harmonisasi di Desa Bugisan Abad ke-9.
Religious Moderation: The Concept of Hindu-Buddhist Teachings as a Basis for Forming Harmonization in a 9th Century Bugisan Village.
DOI:
https://doi.org/10.22515/alabsah.v2i1.36Keywords:
Abad ke-9, Budha, Candi Plaosan, Hindhu, HarmoniAbstract
Penelitian ini membahas hubungan dua agama pada masa masa kerajaan Mataram Kuno di Desa Bugisan di Kecamatan Prambanan, Klaten, tepatnya disekitar komplek candi Plaosan. Dalam penilitian ini konsep ajaran Tri Hita Karana, Tat Twam Asi ajaran Hindu dan Kakacupama sutta ajaran Buddha menjadi objek kajian yang melatarbelakangi harmonisasi agama Hindu dan Buddha serta pengaruh perkembangan ajaran tersebut di Desa Bugisan era Mataram Kuno. Fokus kajian ini adalah untuk mengungkap beberapa hal yaitu diantaranya, Konsep Ajaran Hindu – Buddha masa Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya, Harmonisasi ajaran Hindu-Buddha, Harmonisasi Hindu-Buddha di Komplek Desa Bugisan Era Mataram Kuno. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran agama Tri Hita Karana, Tat Twam Asi dan Kakacupama sutta yang menekankan hubungan baik antara manusia, Tuhan, alam, kesabaran dan cinta kasih adalah kekuatan utama yang menciptakan hubungan harmonis agama Hindu-Buddha era Mataram Kuno khususnya di Desa Bugisan. Penilitian ini juga menunjukkan adanya peran alkulturasi dalam seni dan budaya untuk memperkuat persatuan antara masyarakat Hindu dan Buddha di era Mataram Kuno.
References
Budiadnya, I. P. “Tri Hita, Karana dan Tat Twam Asi Sebagai Konsep Keharmonisan.” Widya Aksara: Jurnal Agama Hindu 3, no. 2 (2018).
DhammaCitta. “MN 21: Kakacūpama Sutta.” Diakses 19 Juli 2025.
Harits Mu’tasyim. Tat Twam Asi in Hinduism. Tesis, University of Darussalam Gontor, 2018.
Magali, dkk. “Buddhist Concepts as Implicitly Reducing Prejudice and Increasing Prosociality.” Personality and Social Psychology Bulletin 41, no. 4 (2015).
Marwati Djoened Poesponegoro. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka, 2008.
Nur Anisah, dkk. “Tradisi Kesusastraan Dalam Masyarakat Arab Yang Menjadi Pola Dasar Penulisan Sejarah Historiografi Arab Pra Islam.” Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities 5, no. 1 (2024).
Oka, Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik. Sanatana Hindu Dharma. Denpasar: Widhya Dharma, 2009.
Pinardi, S. Prasasti-prasasti Kerajaan Mataram Kuno. Jakarta: Dinas Purbakala Republik Indonesia, 1952.
Saitya, dkk. “Pelinggih Pajenengan Sebagai Manifestasi Sinkretisme Śiwa-Buddha di Pura Pegulingan Gianyar Bali.” Jurnal Penelitian Agama Hindu 7, no. 4 (2023).
Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1973.
Sahruni, dkk. “Makna Alkulturasi Hindu-Buddha Pada Arsitektur Candi Plaosan.” Karmawibangga: Historical Studies Journal 3, no. 2 (2021).
Parwati, dkk. “Model Implementasi Tri Hita Karana pada Front Office Department di Hotel The Infinity8 Bali.” Jurnal Internasional Pariwisata Glocal 3, no. 4 (2023).
Badung Kemenag. “Korelasi Ajaran Tri Hita Karana dalam Harmonisasi Beragama.” Diakses 20 Juli 2025.
G.P. Aji. Arsitektur Candi Hindu-Buddha di Jawa Tengah. Yogyakarta: Lembaga Studi Sejarah dan Budaya, 2018.
Kementerian Agama RI. “Salam Buddhis dan Lima Syarat Bertutur Kata dalam Kakacupama Sutta.” Diakses 10 Juli 2025.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2026 Siti Amaliyaturrodiyah SY SY

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







